tentang menahan diri

October 23, 2016 by inyo

Sekitar 40 menit sebelum ibadah dimulai entah kenapa kaki ini melangkah menuju salah satu shopping mal yang terletak berseberangan dengan lokasi ibadah tersebut.

Tidak ada niat untuk belanja, namun karena masih ada waktu hati ini tergerak untuk masuk ke salah satu optik langganan yang hampir selalu berhasil membuat debit card tergesek penuh keyakinan. Tak sadar mata tertuju pada sebuah frame kaca mata yang “wowww bagus sekaliiiii”. Tapi pikiran waras berkata “heiiiii, belum tiga bulan lalu belanja frame kaca mata disini kok sudah mau belanja lagi sih” dan tangan ini pun meletakan frame itu dengan terpaksa seraya mata terus memandang nanar tak sanggup berpisah. Tak berapa lama tangan ini kembali mengambil dan memasangkan frame ini di atas hidung dan rasanya hidung ini berkata “kamu sudah memilih kaca mata yang tepat untuk aku”.

Galau melanda. Hati pun mulai goyang. Pikiran masih bersikeras waras.

Sepuluh menit sebelum Misa kaki ini melangkah keluar dari shopping mal dan menyeberang jalan menuju gereja. Misa berlangsung. Konsentrasi buyar. Pikiran dan perhatian tertuju pada frame itu. Akhirnya saat Misa selesai, kaki siap melangkah kembali ke optik di dalam shopping mal seberang jalan.

Dengan perjuangan sekuat tenaga kaki ini melangkah menyeberang jalan, melewati pintu depan shopping mal, kemudian.. berbalik mencari jalan memutar lewat jalur menuju parkiran. Terburu buru menyalakan mesin mobil dan minggat seketika dari shopping mal itu. Ahhhh lega. Debit card terselamatkan. Hati sedikit kecewa tapi dalam pikiran terdengar tepukan sorak sorai meriah “kamu berhasillll…. kamu berhasillllll”

Sehari berselang keinginan kembali ke shopping mal itu kembali memuncak. Dengan sekuat tenaga berusaha menahan Β hasrat dan entah kenapa beberapa hari kemudian perasaan itu sirna. Seminggu kemudian saat kembali datang ke shopping mal itu dan mampir ke optik yang menyuguhkan tawaran menggiurkan tersebut, hati tak lagi bergolak. Dengan santai melirik frame itu dan ajaib sekali frame itu tak lagi terlihat semenarik minggu yang lalu.

Saat kembali menyetir diajalan kembali suara suara itu muncul dalam pikiran “berhasillll berhasilllll….” dan sorak sorai itu terus terngiang dalam pikiran. “Kamu lulus ujian”

#BahagiaTanpaBiaya

%d bloggers like this: