tentang amarah

July 25, 2017 by inyo

saat membaca tulisan tentang mengendalikan amarah, rasanya seperti sesuatu yang mudah, seolah-olah semua masalah dapat terselesaikan hanya dengan menahan emosi yang tidak seharusnya ada. tetapi saat kita berada dalam situasi yang membuat amarah itu mendadak hadir, tanpa kita sadari kita telah melupakan semua hal tentang pengendalian diri yang pernah kita baca.

seperti saat ketika saya melewati jalan raya bypass  I Gusti Ngurah Rai di Bali beberapa waktu berselang. kepadatan lalu lintas ditambah ketidak sabaran pengguna jalanan yang seperti terbakar emosi membuat sebuah mobil menyerempet kenderaan saya sampai lecet dan penyok. amarah seketika muncul, pun saat itu perasaan saya sebelumnya sangat tenang dan nyaman.

setelah memarkirkan kenderaan, saya dan sopir yang menyerempet mobil itu siap bertemu. saat melihat kondisi mobil saya yang penyok. amarah semakin menjadi. saya kembali masuk kedalam mobil, duduk sebentar menenangkan perasaan. saya sadar tidak ada gunanya untuk marah, akan tetapi perasaan marah itu belum mau pergi dari benak saya.

setelah merasa cukup tenang akhirnya saya bertemu sopir yang menyetir dengan tidak berhati-hati. rupanya sopir ini mengejar waktu sehingga berakhir teledor. setelah perbincangan singkat dengan amarah yang masih belum seratus persen hilang, kesepakatan ganti rugi pun tercapai.

keesokan harinya sopir ini benar-benar memenuhi janjinya, dia menghubungi saya dan mengajak ke bengkel langganannya.  saat itu amarah saya sudah reda dan sadar penuh bahwa marah pun tiada gunanya, karena marah tidak akan membuat mobil saya mulus secara instant.  entah mengapa permohonan maaf dan rasa tanggung jawab sopir ini bisa meluluhkan hati. saya mengikhlaskan urusan kecelakaan ini, dan hanya mengambil seratus lima puluh ribu rupiah yang diberikan sopir itu disaat kejadian sebagai wujud tanggung jawabnya yang mungkin uang tersebut merupakan penghasilan dia sehari penuh.

ajaibnya, setelah saya mengikhlaskan peristiwa itu, pikiran saya menjadi benar-benar tenang. seolah sesuatu yang mengganjal dalam pikiran sirna begitu saja. padahal saya sadar saya akan mengalami kerepotan dengan urusan perbengkelan body repair. namun perasaan saya tetap nyaman dan tenang.  beruntungnya pihak bengkel mau membantu dan dengan waktu singkat kenderaan saya kembali mulus walau dengan biaya yang lebih mahal.

saya tidak mengusir amarah itu, saya hanya menyadari kehadiran amarah  itu dan alasan kenapa saya marah, serta apa yang akan terjadi kalau saya mempertahankan amarah. sadar bahwa amarah tidak akan menyelesaikan masalah dengan lebih cepat bahkan instant membuat saya memilih untuk mengabaikannya. saya tidak akan merelakan ketenangan dan kenyamanan pikiran dan perasaan saya hilang begitu saja.

 

 

%d bloggers like this: