soal pujian

May 9, 2018 by inyo

bertemu dengan salah satu teman yang memang sudah sangat lama tidak ketemu bahkan sekedar berhubungan lewat whatsapp di suatu sore.

suaranya yang nyaring tiba-tiba mengagetkan saya yang sedang duduk menikmati secangkir teh sambil menyimak timeline feeds teman-teman di instagram.

“Nyo, kamu apa kabar? gilaaaa…. keliatan seger aja sih. kok gak tua-tua sih elo”

saya pun mengiyakan dengan ucapan terima kasih sambil tersenyum, dan balas menanyakan kabarnya.

kenapa saya tidak merendah dan menjawab “ahhh gak kok, biasa aja” atau “duhhh apa elo gak liat nih uban sudah merajalela begini”… kenapa?

karena menurut saya itu adalah compliment, dan saya pun memang merasa segeran dan tidak merasa sudah keriputan, jadi saya tidak merasa itu sesuatu yang sombong atau tinggi hati. justru menurut saya kalau saya merendah didepannya namun hati kecil saya merasa senang dan bahkan berpikir “ya iyalahhhhh makanya perawatan” itu baru namanya sombong. untuk apa merendah tapi menaikan mutu kalau hanya biar terkesan manis baik, atau ramah? setidaknya ini menurut saya.

toh nanti memang akan ada waktunya saat semua rambut memutih, dan keriput sudah tampak jelas menggaris alur-alur tajam dikulit wajah, tak akan ada lagi orang yang akan bilang “wowwww…. kamu awet muda sekali”.

jadi semasa memang masih layak menerima pujian, dan pujian itu membahagiakan kita serta ikut membahagiakan orang lain, kenapa tidak diterima dengan senang hati dan bersyukur.

saya percaya ada batasan yang sangat jelas antara senang menerima pujian yang semestinya, dengan congkak atau tinggi hati.

selama pujian itu memang layak kita terima, terimalah dengan hati senang dan berilah ucapan terima kasih sebagai ungkapan syukur.

 

%d bloggers like this: